Kenyataan semakin kentalnya iklim apatis, pragmatis, dan ketidakpekaan mahasiswa dalam lingkngan sosial yang kian kompetitif, pragmatis dan kental nuansa kapitalistik, (beuh bahasanya dah tingkat tinggi ni.. hehe) tentu saja yang dibutuhkan "mesin-mesin ekonomi" yang serba cepat dan tidak banyak bertanya atas bebagai ketimpangan . Oleh karena itu, akankah mahasiswa akan terjebak pada arus tersebut? Dimanakah lagi gairah aktivitas kemahasiswaan yang senanitasa berdampingan dengan upaya pemberdayaan masyarakat di sekitarnya? Inlah salah satu tema yang di usung dalam buku ini.
Dalam halam 33-36 tertulis bahwa seorang aktivis hendaknya juga menjadi man of idea, tidak hanya man of action. ada beragam cara agar dapat menyandang kedua tipe tersebut, memunculkan gagsan cemerlang dan ditulis dapat bentuk karya apapun melakukan tindakan-tindakan cerdas sehingga menarik hati orang untuk ditulis, menyinergikan dua hal ini memang dibutuhkan sosok mahasiswa yang mau kerja keras dan tidak tercerabut dari sosoknya sebagai salah satu bagian penting dari rahim "intelektual organik".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar